Social Media untuk Pembelajaran

Perkembangan teknologi dari web 1.0 ke web 2.0 telah melahirkan social media. Perkembangannya cukup drastis, bahkan facebook saat ini sudah mencapai jumlah pemakai sebanyak 500 juta.

Dari video di bawah bisa dilihat statistik pemakai social media saat ini,

Dari video tersebut juga kita simak bahwa social media bukan hanya untuk iseng saja, tapi juga membawa perubahan yang cukup mendasar tentang bagaimana seseorang berinteraksi.

Termasuk dalam hal ini untuk pembelajaran, social media juga sangat mungkin dimanfaatkan. Seperti yang kita tahu, wikipedia mempuyai jutaan artikel yang bisa dijadikan sebagai bahan referensi (walaupun ada sebagian kalangan di wilayah akademis yang tidak sepakat dengan ini). Atau dengan twitter orang dengan mudahnya sharing pengetahuan mereka, bahkan ada trend baru membuat semacam postingan berseri yang diistilahkan dengan #kultwit.

Melihat fenomena ini,  social media sudah membawa perubahan fundamental dalam pembelajaran jarak jauh atau sering kita sebut e-learning. Dari semula e-learning fokus kepada konten dengan adanya social media maka fokus e-learning adalah kepada manusianya serta interaksi yang dilakukan oleh orang-orang yang ada didalamnya. Konten bisa dilahirkan oleh semua orang, dan tentunya pengetahuan yang ada juga akan semakin kaya.

Pertanyaan terbesar, apakah insan akademis, terutama lembaga formal akan bisa memanfaatkannya dengan baik?

Posted in Prilaku Komunitas, social learning | Tagged , , , , , | 1 Comment

Pendidikan Murah Apakah Mungkin?

Pada Kuartal pertama tahun 2010 ini dunia pendidikan Indonesia sedikit dihebohkan dengan kontroversi UU BHP yang akhirnya dibatalkan oleh Mahkamah Konstitusi (ulasannya silakan baca disini). Yang jadi kontroversi dari UU ini adalah implikasinya yang menjadikan pendidikan khususnya pendidikan tinggi di Indonesia menjadi mahal.

Berbicara tentang biaya, untuk menyelenggarakan pendidikan khususnya di Perguruan Tinggi memang membutuhkan dana yang cukup tinggi.  Untuk dapat menyekolahkan anak orang tua harus menyiapakan biaya antara lain: Biaya Operasioanal Pendidikan (BOP) ,Biaya hidup, biaya pendukung studi dan biaya pendukung studi tambahan.  Untuk sekolah dasar dan menengah mungkin biaya hidup dan biaya pendukung studi tidak akan terlalu besar, tapi ketika kita berbicara pendidikan tinggi maka biaya pendidikan tersebut akan menjadi komponen yang cukup besar.

Tapi fakta bahwa biaya pendidikan tersebut yang tinggi tidak mempunyai solusi. Pendidikan murah tetap dapat diimplementasikan tanpa harus mengurangi kualitas dari pendidikan tersebut. Salah satu solusi yang bisa dilaksanakan adalah penggunaan teknologi informasi (sekarang lebih tepat penggunaan social media) untuk melaksanakan proses pendidikan tersebut. Dengan pengguanan social media maka bisa dihemat biaya administrasi, biaya fasilitas kampus, biaya hidup dan pemakaian konten digital dan opencourseware akan dapat mengurangi biaya pendukung studi.

Salah satu contoh implementasi social media untuk pendidikan adalah proyek yang dikeluarkan oleh Global Alliance for Information and Communication Technology and Development (GAID) salah satu organisasi di PBB. Proyek ini diberi nama University of the People , 100 % dari kegiatan belajar mengajar dan proses administratif dilaksanakan secara online. Selain proyek ini di Indonesia juga sejak lama sudah berdiri Universitas Terbuka dan sudah juga menerapkan konsep  elearning.

Dengan bisa dihematnya biaya pendidikan dari sisi fasilitas kampus, administratif, bahan ajar dan biaya hidup maka biaya yang harus dikeluarkan bisa difokuskan untuk mendapatkan pengajar yang berkualitas.

Pertanyaanya siapkah kita untuk mengimplementasikan konsep ini, ya harus dimulai dari kebiasaan online dulu dong.

Posted in social learning | Tagged , , , , , , | 1 Comment

Tidak Cukup Hanya Konten yang Keren!!!!Tambahkan Social Experience

Konsep elearning berkembang selama ini sangat menekankan kepada konten yang disediakan oleh pembuat program pembelajaran. Tugas dari peserta elearning adalah memahami konten tersebut dan akhirnya mengerjakan tugas/latihan untuk mengukur seberapa paham mereka dengan bahan ajar yang diberikan. Biasanya yang muncul adalah sebuah kejenuhan dan akhirnya target dari pembelajaran tersebut tidak tercapai.

Dengan berkembangnya konsep jaringan sosial dan media sosial sekarang ini, konten tidak lagi merupakan satu-satunya raja. Suatu konten akan menjadi menarik ketika dalam mengkonsumsi konten tersebut ada pengalaman sosial (social experience) yang didapat.  Kita akan merasa senang ketika ada foto bersama teman-teman diupload di facebook kemudian kita ditag dan muncullah komentar-komentar lucu dari teman-teman lain baik yang ada di foto tersebut maupun teman-teman lain yang berhubungan. Pasti lebih menarik kan? Nah itulah yang disebut dengan pengalaman sosial dalam mengkonsumsi konten.

Pertanyaannya apakah cocok diterapkan di dunia pendidikan? atau bagaimana menerapkannya.  Jawaban dari pertanyaan ini adalah hal yang selalu di bahas di blog ini dan menjadi filosofi pengembangan medresa- (social learning)-. Dengan pengalaman sosial proses belajar akan semakin menarik dan  peserta pembelajaran pun akan semakin menyenangkan. Sudah siap untuk menerapkan di sekolah dan instansi anda?

Posted in Prilaku Komunitas, konten | Tagged , , , , | 1 Comment

Masa depan e-learning adalah Social Learning

Judul post ini saya terjemahkan dari artikel Jane Hart founder of the Centre for Learning & Performance Technologies. Sebelum kita lebih jauh lagi membicarakan tentang penerapan social learning di dunia pendidikan terutama untuk pendidikan dasar dan menengah, alangkah lebih baik kita samakan dulu persepsi tentang konsep ini.

Slide berikut yang ditulis oleh Jane di blognya http://janeknight.typepad.com bisa memberikan masukan buat pengembangan konsep ini, dan bisa jadi bahan diskusi.

The future of e-learning is social learning

View more presentations from Jane Hart.
Silakan berikan pendapat anda pada fasilitas komen dibawah
Posted in social learning | Tagged , , , , | 1 Comment

Anak-Anaknya sudah Canggih, Pelajaran TIK?

Inilah yang saya temui setelah beberapa kali datang ke sekolah untuk inisiasi klub Teknologi Informasi. Pertama kali di SMPN 34 Bandung, saya dan tim langsung kaget ternyata anak-anak SMP sekarang sudah terbiasa memakai flash, photoshop, java, html css, dll. Dan yang paling mengagetkan lagi adalah mereka belajar otodidak bukan di dapat dari sekolah. Begitupun ketikakunjungan ke SMP Darul Hikam anak-anaknya pun ga beda jauh, tapi bedanya rata-rata mereka tertarik ke games.

Nah bagaimana pelajaran sekolah? Jangan tanya, SMP yang diajarkan adalah bagaimana menggunakan aplikasi office. Ternyata di SMA pun juga yang diajarkan adalah menggunakan aplikasi office. Tanya kenapa?

Begitulah realitasnya, disaat anak-anak sekarang sudah digital native ternyata kurikulum TIK masih saja memakai standar 10- 20 tahun lalu. Keingintahuan anak-anak tersebut, minat mereka untuk mengetahui lebih banyak tentang dunia TI memang diperlukan media untuk bisa menjadi penyalurannya.

Posted in Prilaku Komunitas | Tagged , , | 1 Comment

Sudah ada Moodle Kenapa Medresa?

Ini pertanyaan yang sering diajukan kepada saya juga kepada teman-teman lain di tim medresalabs. Jawaban dari pertanyaan inilah yang kemudian mendasari medresa kemudian dikembangkan.

Sedikitnya ada beberapa alasan mulai dari yang filosofis sampe yang sangat teknis sebenarnya:

  1. Yang ingin kami kembangkan adalah suatu lingkungan belajar yang menarik dan tidak membosankan.
  2. Ilmu dan pengetahuan bisa berasal dari siapapun dan selalu akan berkembang.
  3. Masalah desain antarmuka. Kami menginginkan desain antarmuka yang tidak kaku karena hal ini sangat penting user.
  4. Konsep belajar berbagi dari pengalaman yang didapatkan oleh orang lain.

Dari alasan-alasan itu kemudian diputuskan untuk mengembangkan sendiri karena usaha yang dikeluarkan untuk memodifikasi yang sudah ada sama dengan memulai dari awal.  Yang jelas konsep dasar yang ingin dikembangkan di medresalabs sangat berbeda sekali dengan bisnis proses moodle. Buat kami belajar tidak harus terikat dengan kurikulum dan aturan yang mengikat. Belajar itu harus dari keinginan orang untuk mendapatkan ilmu pengetahuan dan tentu saja ketika ilmu itu dibagi kepada orang lain akan menjadi lebih berkembang.

Jadi medresa tentu saja bukan ikut-ikutan trend social media tentunya. Tapi punya filosofi yang kuat tentang pembelajaran.

Posted in Dapur Medresa | Tagged , , | Leave a comment

Membentuk Kultur Berbagi Kolaborasi dalam Lingkungan Pembelajaran

Berbagi (sharing) adalah aktifitas utama dalam kegitan social learning. Tingkat lanjut dari kegiatan sharing adalah kolaborasi antara user yang terlibat dalam lingkungan belajar. Tanpa adanya kebiasaan untuk berbagi dan berkolaborasi dalam hal konten pembelajaran maka aktifitas social learning tidak akan berjalan dengan baik. Dengan konsep berbagi dan kolaborasi maka sebuah pengetahuan akan berkembang lebih cepat dan koreksi terhadap suatu kesalahan bisa cepat dilakukan.

Dari pengamatan yang saya lakukan terhadap aktifitas di jaringan sosial khususnya Indonesia kebiasaan berbagi sudah cukup baik, tapi masih dalam hal yang sifatnya pengalaman pribadi. Untuk hal-hal yang sifatnya pengetahuan secara lebih spesifik ini masih segelintir orang yang sudah mau berbagi pengetahuan dan keahlian yang dipunyai. Kebiasaan ini bisa kita lihat di twitter tapi kebanyakan baru sebatas marketing dan teknologi informasi. Untuk hal-hal lain kebiasaan ini belum muncul.

Untuk dunia pendidikan sendiri konsep sharing dan kolaborasi ini belum menjadi budaya di lingkungan kita. Selama pengalaman saya 12 tahun sekolah dan 5 tahun di PT sangat jarang guru atau dosen yang mengimplementasikan kebiasaan ini. Kegitan belajar mandiri dengan siswa dalam bentuk kelompok belajar, guru sebagai fasilitator adalah bentuk sederhana dari konsep sharing dan kolaborasi. Kenapa jarang yang mengimplementasikan, saya curiganya karena guru harus mengejar target kurikulum yang memang di Indonesia sangat padat.

Isu lainnya yang cukup menjadi perdebatan dalam hal sharing dan kolaborasi ini adalah masalah hak cipta. Masih banyak orang yang tidak mau membagi secara gratis pengetahuan atau tools yang dibuat kepada orang banyak bahkan untuk kepentingan pengembangan ilmu pengetahuan. Kalau untuk masalah ini sudah ada institusi independen bernama creative common yang membuat standar copy left dimana si pembuat konten tetap dihargai untuk setiap konten yang dihasilkan, sekaligus bisa sharing dan kolaborasi dengan banyak orang.

Dalam konsep online social learning ada beberapa faktor yang penting untuk membentuk budaya sharing dan kolaborasi ini:

  1. membangun komunitas yang amanah, dimana dalam komunitas ini terjadi proses sharing dan kolaborasi. Ide original dari seseorang harus tetap diakui.
  2. tersedianya sebuah web platform yang bisa memfasilitasi proses kolaborasi dan sharing.
  3. melakukan kegiatan-kegiatan yang sifatnya sharing dan kolaboarasi, contohnya seperti diatas, proses pembelajaran dengan membentuk kelompok siswa belajar mandiri dengan guru berfungsi sebagai fasilitator

Membangun budaya itu tidak bisa instan dan butuh komitmen dari orang-orang yang terlibat di dalamnya.

Posted in Prilaku Komunitas | Tagged , , , , | Leave a comment

Hal Penting dalam Online Social Learning

Seperti yang dibahas di tulisan sebelumnya bahwa perkembangan web 2.0 akan mempermudah konsep social learning, dimana setiap orang sekarang bisa menjadipembuat  konten baik itu tulisan, animasi, video dan jenis konten lainnya.

Memang untuk menerapkan ini tidak mudah dan masih banyak kendala yang harus diatasi. Dari hasil pengamatan dan obrolan dengan pelaku dunia pendidikan paling tidak ada beberapa insight yang saya dapatkan:

1. Guru bahkan murid sekalipun belum banyak yang terbiasa untuk menggunakan tools teknologi informasi dan komputer, seperti internet, aplikasi word processor, aplikasi untuk presentasi dan lain-lain sebagainya.

2. Masih adanya sekat primordialisme bahwa semua informasi pengetahuan harus berasal dari Guru dan harus sesuai dengan kurikulum yang sudah ditetapkan, padahal sumber pengetahuan sekarang di internet sangat berlimpah.

3. Belum terbiasanya guru, dan murid untuk menuliskan idenya dan kemudian membagi ide tersebut kepada orang lain.

4. Belum terbentuknya kebiasaan online di kalangan dunia pendidikan khususnya yang saya lihat adalah di kalangan guru.

5. Masih ada anggapan di kalangan guru bahwa menggunakan teknologi informasi akan menambah pekerjaan mereka.

Melihat hal diatas memang sangat sayang sekali beberapa bantuan infrastruktur dari pemerintah dalam bentuk lab multimedia dan jaringan internet ke sekolah belum bisa dimanfaatkan dengan baik.  Seperti contoh lab multimedia diakui jarang dipakai karena keterbatasan konten, kalau menurut saya sih, konten sekarang sudah berlimpah, tinggal gimana kita kreatif untuk mendapatkan konten tersebut.

Untuk menyelesaikan permasalah dan kendala diatas memang dibutuhkan kerja keras dari semua pihak yang terlibat, salah satunya bisa dilakukan dengan pembentukan komunitas pembelajaran dimana di komunitas tersebut akan dibentuk prilaku untuk bisa memanfaatkan semaksimal mungkin teknologi informasi dan membentuk kebiasaan online mereka.

Posted in social learning | Tagged , , , | 3 Comments

Pembelajaran Berbasis Social (Social Learning)

Sebagai makhluk yang diberikan akal oleh pencipta, maka sudah seharusnya manusia selalu melakukan proses pembelajaran sepanjang hidupnya.  Proses belajar itu akan menghasilkan ilmu pengetahuan yang akan berguna bagi keberlangsungan hidup manusia. Untuk melakukan pembelajaran itu bisa dilakukan baik  secara formal (melalui institusi pendidikan), maupun secara informal dalam kehidupan sehari-hari.

Pembelajaran akan merubah prilaku manusia secara keseluruhan ataupun sebagian yang dihasilkan atas pengalaman-pengalaman yang dialami dan kalau dihimpun akan menghasilkan pengetahuan. Sesuai dengan hukum alam bahwa dunia ini dinamis , maka proses pembelajaran bagi manusia akan dialami sepanjang hidup dan dapat berlaku dimanapun dan kapanpun. Kalau proses pembelajaran ini berhenti maka manusia tidak akan bisa bertahan dalam kehidupannya.

Secara teoritis,  banyak teori yang sudah dikembangkan dalam proses pembelajaran, salah satunya adalah social learning atau sering disebut observatorial learning. Dalam konsep ini manusia akan mendapatkan perubahan prilaku atau pengetahuan baru melalui observasi terhadap apa yang telah berlaku dalam lingkungan belajarnya. Melalui pengamatan terhadap lingkungan tersebut kemudian dihasilkan suatu model yang kemudian dikembangkan sebagai sebuah pengetahuan baru.

Perkembangan teknologi yang menghasilkan social media (web 2.0), akan sangat membantu dalam proses social learning. Sifat social media yang hirizontal dan egaliter juga akan membentuk prilaku baru dalam proses pembelajaran. Pengetahuan bukan hanya milik guru atau yang diakui sebagai seorang ahli, tapi pengetahuan bisa berasal dari siapa saja. Hebatnya lagi akan semakin mudah untuk melakukan kolaborasi sehingga menghasilkan suatu pengetahuan baru.  Tantangannya adalah apakah struktur pendidikan yang selama ini sudah cukup mapan akan mau menerima proses pembelajaran seperti in. Dan ini adalah proses pembalajaran pula untuk membentuk sebuah prilaku-prilaku baru dalam kehidupan khususnya dalam pembelajaran.

Posted in social learning | Tagged , , , , | Leave a comment

blog. medidu.com Kok Official Blog MedresaLabs

Pasti ketika masuk ke blog ini akan ada yang bertanya-tanya kok offical blog MedresaLabs domainnya blog.medidu.com? Atau pertanyaan yang paling dasar apa sih medresa itu atau apa itu medidu.

Kalau diceritakan secara detail  cukup panjang juga, dan ga bakal cukup satu artikel untuk menjelaskannya. Mengenai apa itu medidu.com? apa itu medresa bisa dibaca saja di bagian halaman about dari blog ini. Disini saya akan sedikit bercerita tentang sejarah munculnya ide membuat medresa dan munculnya medidu.com.

Medresa adalah produk dari saklik.com berupa LMS (learning management system) atau dalam bahasa gampangnya engine elearning. Ya klo boleh dikatakan ini mirip moodle-lah. Pada awalnya sih sebenarnya ga bakal dibangun platform ini, tapi cukup menggunakan platform yang sudah ada, bahkan pilihan yang paling tepat adalah moodle, tapi karena setelah cukup lama ngoprek ternyata bentuk yang diinginkan (terutama dari sisi desain) akan sulit dipenuhi maka mau ga mau harus develop platform sendiri.

Apa sih alasannya? cukup sederhana, kami menginginkan adanya suatu tempat belajar di online yang tidak membosankan dan membuat orang ketagihan seperti halnya orang bermain games. Sudah banyak memang produk-produk seperti itu dalam bentuk CD interaktif edukatif, tapi yang serius menggarap pasar online belum ada khususnya Indonesia. Kalau hanya dari sisi konten memang LMS yang sudah ada bisa menampung, tapi sekali lagi kami menginginkan desain websitenya ga boleh kalah dari situs-situs berbasis web 2.0 lainnya. Ditambah satu filosofi belajar konstruktivisme melalui konsep kolaboratif maka diputuskan membangun LMS sendiri yang diberi nama medresa (dari Bahasa Arab madrasah= sekolah).

Dari tiga hal itu, konsep medresa dibuat seperti social networking tapi digunakan untuk proses belajar mengajar.

Nah selanjutnya kenapa medresa dan kenapa medidu. Alasannya juga sederhana karena medresa.com sudah dibeli terlebih dahulu oleh orang lain. Setelah cukup lama muncul ide baru -sebelumnya mengambangkan service seperti facebook- berupa model seperti wordpress.com. Disatu sisi akan tetap dikembangkan situs yang menyediakan service dan konten elearning, dan engine yang dibangun (medresa) dijadikan opensource . Situs tersebut akhirnya diberi nama medidu.com dan enginenya tetap diberi nama medresa.

Kelahiran medidu dan medresa tidak lepas dari peran teman-teman click IT creative (anam, echa, della, ogi, ratna, saya sendiri-febri) dan kemudian bertransformasi menjadi saklik (saya, jalu, dion, ratna, hanry).

Dan dimulai dari medidu.com ini kami bertekad ingin memajukan pendidikan nasional khususnya dan pengembangan ilmu pengetahuan umumnya.

Posted in Release | Tagged , , , | 1 Comment